Di masa silam, banyak orang yang memulai tahun baru tepat di hari panen. Orang Persia kuno mempersembahkan hadiah telur di tahun baru, sebagai lambang dari produktivitas. Orang Romawi kuno saling memberikan hadiah potongan dahan pohon suci. Lalu banyak orang yang saling memberikan kacang atau koin lapis emas dengan gambar Janus, dewa semua permulaan. Dari gambar dewa bermuka dua (satu muka menghadap ke depan dan yang satu lagi menghadap ke belakang) inilah, didapat nama bulan Januari.
Di bulan Januari, dimulailah kebiasaan orang-orang Romawi yang mempersembahkan hadiah kepada kaisar, hingga akhirnya kaisar mewajibkan hadiah-hadiah seperti itu. Para pendeta Keltik memberikan potongan dahan "mistletoe" (tumbuhan parasit yang ada di hari Natal) yang dianggap suci, kepada umat mereka. Pada tahun 457 Masehi gereja Kristen melarang kebiasaan ini, bersama kebiasaan tahun baru lain yang dianggapnya merupakan kebiasaan kafir.
Pada tahun 1200-an pemimpin-pemimpin Inggris mengikuti kebiasaan Romawi yang mewajibkan rakyat mereka memberikan hadiah tahun baru. Para suami di Inggris memberi uang kepada para istri mereka untuk membeli bros sederhana. Kebiasaan ini hilang pada tahun 1800-an, namun istilah pin money, yang berarti sedikit uang jajan, tetap digunakan. Banyak orang-orang koloni di New England, Amerika, yang merayakan tahun baru dengan menembakkan senapan ke udara dan teriak, sementara yang lain mengikuti perayaan di gereja atau pesta terbuka, termasuk di Indonesia.
Jadi, pantas kah kita untuk merayakan pergantian tahun baru, padahal tahun baru umat islam sudah dirayakan, tapi hanya sedikit orang yang merayakannya.



Tidak ada komentar:
Posting Komentar